Sudah 11 tahun lebih saya tidak pernah bekunjung ke museum jawabarat Sri baduga Yang ada di deket lapangan Tegal Lega bandung. Dulu pas waktu SD sering sekali saya berkunjung ke museum tersebut even ketika waktu bulan puasa “ngabuburit”.
Sekarang setelah berkeluarga dan punya anak, pas liburan kali ini saya sempatkan jalan-jalan berkunjung ke museum tersebut…. dan SURPRISE saudara-saudara.. Ternyata setelah empat kali berganti walikota ( Ateng Wahyudi – Wahyu Hamidjaya – Aa ‘preman’ Tarmana – Dada Rosada) koleksi musem tersbut kok “gitu-gitu aja” sama seperti ketika saya SD 20 tahun yang lalu. Gak berubah dan tidak ada penambahan apaapun. Malah ada beberapa koleksi musem yang berkurang seperti replika kaki mulawarman dan prasasti batu tulis…
wah pada kemana neh koleksinya.. jangan sampai kejadian museum radiya pustaka solo yang kebobolan maling orang dalam terjadi di musem Sri Baduga ini. I hope not so…
Ngemeng-negemeng ruang aula audio visual museum tersebut sekarang sudah dikomersilkan jadi tempat acara pernikahan…ck ck ck… Hidup nikah! Hidup rakyat! Hidup Persib!
Neh bebrapa Screenshot foto kunjungan museum dengan bintang cilik Hanif my Son:
Di depan arca shiwa
di lokasi arca-arca
replika rumah penggede sunda jaman baheula
Alat-alat Degung kuno – Mirip acara uka-uka
hiihhh seyemmm
Filed under: Indonesiana | Tagged: aa tarmana, ateng wahyudi, bandung, dada rosada, jawa barat, museum, persib, sri baduga, wahyu hamidjaja, walikota






Lestari Budaya dan lestari NKRI, ikatan bathin budaya dan aksara daerah, bukan pelestarian bahasa luar dan aksara luar negeri di bumi persada indonesia; melalui musem budaya di masing-mamsing daerah, berprogram evaluasi dan berkesinambungan, pemerhati budaya/LADN(horas mada.
budaya ragam sesuai asal muasal anka didik bangsa, perlu di pak dalam satu pengajaran muatan lokal,” Cinta beraneka ragam budaya bangsa”, dan juga beasiswa untuk mahasiswa/i jurusan sastra dan budaya, serta donateur menetap pelestarian budaya ragam etnis suku bangsa di Indonesia,merdeka-horas.